Prodi Sanitasi adalah salah satu institusi pendidikan yang menghasilkan Tenaga Sanitasi Lingkungan; hal ini dipertegas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/4788/2021 Tentang Standar Profesi Tenaga Sanitasi Lingkungan. Perkembangan IPTEK mendorong institusi pendidikan untuk mengembangkan kurikulum agar dapat menghasilkan tenaga sanitasi lingkungan yang kompeten dan sesuai dengan perkembangan jaman.

Saat ini, Prodi Sanitasi menggunakan Kurikulum Nasional D3 Sanitasi yang di susun tahun 2018.  Karena adanya perkembangan kebutuhan masyarkaat pengguna lulusan maka prodi sanitasi  melakukan workshop yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dari pengguna lulusan tentang kompetensi yang di butuhkan , sehingga menjadi kurikulum  penciri dari lulusan prodi sanitasi. Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. R.H. Kristina, SKM, MKes,  yang membuka kegiatan ini menyampaikan bahwa profesi sanitasi lingkungan menjadi salah satu jenis profesi tenaga kesehatan dari sembilan tenaga penting yang wajib ada di fasyankes.  Karena itu “Peran tenaga sanitasi sangat penting, namun hingga saat ini peran dan fungsi tenaga sanitasi belum ‘muncul ke permukaan’. Beberapa tupoksi tenaga sanitasi belum secara nyata diimplementasikan di fasyankes masing-masing” demikian Direktur.  Lebih lanjut Direktur menyampaikan bahwa peran dan kompetensi tenaga sanitasi harus melekat dalam aktivitas sehari-hari.  Faktanya bahwa pandemic Covid19 menurunkan atau melemahkan minat mahasiswa untuk mempelajari ilmu Kesehatan Lingkungan; untuk itu perlu upaya dan kreatifitas luarbiasa dari para pendidik untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, diantaranya dengan melakukan review terhadap kurikulum yang ada.

Disadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penerapan kurikulum. Penularan penyakit infeksi dan non infeksi di NTT perlu mendapat perhatian khusus dari para pihak agar lulusan yang dihasilkan benar-benar lulusan yang berkualitas, lanjut  Direktur.  Perlu transformasi besar-besaran dalam penerapan kurikulum; agar lulusan sanitasi dapat dipasarkan di luar negeri. Banyak hal yang dapat dilakukan, namun salah satu hal yang perlu diperhatikan secara khusus adalah penambahan SKS bahasa asing seperti Bahasa Inggis, Bahasa Jepang dan lain sebagainya dalam kurikulum, untuk  menjawab tuntutan persyaratan lulusan yang akan bekerja di luar negeri.

Acara workshop ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 18 dan 19 Agustus 2022, yang dihadiri oleh 50 peserta secara luring dan lainnya mengikuti secara daring. Peserta yang hadir dalam kegiatan pembukaan workshop terdiri dari unsur pimpinan poltekkes kemenkes kupang, Wakil Direktur, para kepala pusat, para dosen dan tenaga pendidikan, oragnisasi profesi HAKLI, institusi pengguna lulusan dan lokasi praktek mahasiswa seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Kupang, Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT, PDAM Kota Kupang, Puskesmas dan Rumah sakit serta diikuti oleh mahasiswa dan alumni, Forum Penanggulangan Risiko Bencana daerah Kota Kupang.