Seminar Nasional I dengan thema Sinergitas Pemerintah&Institusi Pendidikan Dalam Pengendalian Penyakit Tropis dilaksanakan oleh Prodi Sanitasi bertempat di Neo Aston, Jumat 29 Nopember 2019. Menghadirkan narasumber dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik), Dr. Suwito, SKM, M.Kes (Kasubit Vektor& Binatang Pembawa Penyakit), Ermi Ndoen, Phd (Unicef Indonesia), Norma P.L.B Riwu Kaho, SP, MSc, dan Dr. R. H.  Kristina SKM, M.Kes (Prodi Sanitasi Poltekkes Kupang).

Siti Nadia Tarmizi dalam pemaparannya mengharapkan Poltekkes Kemenkes Kupang dapat berperan sebagai agen of change yang dapat menjadi role model dan perubahan dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di keluarga dan lingkungan. Pengendalian Penyakit Tropis dapat dilakukan dengan cara penyebarluasan informasi program-program kesehatan mastarakat melalui berbagai saluran media komunikasi, melakukan advokasi kepada kelompok  potensial dan kepada pengambil kebijakan dalam mendukung kebijakan public berwawasan kesehatan, peningkatan kapasitas SDM dalam upaya peningkatan promosi program kesehatan, menyukseskan pembangunan kesehatan dengan mendukung Germas dan program Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga, dan melalui penelitian dan pengembangan.

Kristina dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Poltekkes Kemenkes Kupang mengangkat focus “Pengendalian Penyakit Tropis Berbasis Kepulauan” sehingga kegiatan seminar nasional ini sangat mendukung program  PUI, harapannya prodi lain juga akan saling menopang dan mengembangkan kreatifitas kegiatan lain untuk kemajuan Poltekkes Kemenkes Kupang. Selain itu Kristina juga memperkenalkan pendekatan pemberdayaan kader yang dilatih, untuk menurunkan angka kejadian malaria di Lembata dikenal dengan Eco Support Treatment yang dilakukan dalam pendekatan pendampingan Minum Obat Malaria (Support Treatment), Pendampingan Penggunaan kelambu dan Pendampingan Modifikasi Lingkungan.

                         

Suwito memaparkan bahwa 75% penyakit disebarkan oleh vektor atau Binatang Pembawa Penyakit (BP2) yakni binatang selain arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan, dan/atau menjadi sumber penular penyakit. Pengendalian vector dapat dilakukan secara Pengendalian vektor dengan metode fisik (3M menguras Menutup dan mendaur ulang, larvitrip, raktek nyamuk), metode biologi (tanaman anti nyamuk, ikan pemangsa jentik, Metode kimia (Kelambu LLINs dan IRS Pengendalian Malaria,  Fogging DBD) dan pengelolaan lingkungan).

Ermi Ndoen dari Unicef memaparkan Indonesia masih menyumbang 8% kepada dunia untuk angka malaria secara global. Dalam kaitannya dengan sinergitas pemerintah, Visi dan Misi Gubernur NTT 2019- 2023 memiliki salah satu point yakni kesejahteraan masyarakat NTT sehingga penanggulangan malaria termasuk dalam program besar pemerintah NTT. Distribusi Kasus Malaria di NTT 16.611 Kasus ditahun 2018 turun menjadi 6.517 kasus di Tahun 2019. Peran Poltekkes Kupang besar dalam penanggulangan penyakit Tropis di NTT, apakah dalam bentuk kurikulum lokal yang memuat penyakit tropis, pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat yang berbasis penyakit Tropis.

                        

Norman pada kesempatan yang sama memperkenalkan pemanfaatan sistem infomasi geografis dan offline mobile mapping dalam surveillance penyakit tropis. Kehadiran aplikasi yang gratis dan bisa dijangkau kapan pun akan membantu dalam peringatan dini untuk mencegah KLB, Menghasilkan informasi yang cepat dan akurat yang “evidence based”, Mendapatkan trend secara temporal, Mendapatkan gambaran distribusi penyakit (orang, tempat & waktu). Fungsi lain dari SIS dalam survelaince adalah Membantu Pengumpulan Informasi Di Lapangan, Pengelolaan Informasi & Progress Monitoring, Pra-Analisis Untuk Penentuan Strategy Lapangan, Analisis & Pemodelan Spasial.

Selain materi Seminar diatass, pada sesi siang dilanjutkan dengan presentasi oral dan poster materi hasil penelitian dari 51 peserta yang sebagian besar adalah dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, dosen dari luar seperti Solo, Surabaya, Jakarta dan Makassar. Pada hari kedua, Sabtu 30 Nopember dilanjutkan dengan pelatihan/workshop GIS dan avenza, setiap peserta mendapatkan kesempatan berpraktek langsung cara memanfaatkan aplikasi GIS dan avenza.